Monday, 28 April 2014

Surga Tersembunyi di Candi Gebang

Adalah sebuah resto dan pemancingan ikan bernama Ledok Gebang. Sebagian orang, khususnya warga Jogja mungkin masih asing dengan namanya. Namun karena keterasingannya lah tempat ini layak disebut surga tersembunyi.
Ledok Gebang layak disebut surga bukan hanya karena memiliki aneka menu sedap saja. Ledok (yang artinya jurang) ini juga memiliki hamparan alam nan indah yang "mengumpet" dari antara kawasan rumah penduduk yang padat.
Mengunjungi tempat ini, Anda harus waspada. Sebab kebablasan sedikit, anda akan tidak tahu kalau sudah sampai. Salah satu penanda dari Ledok Gebang adalah adanya gapura kayu coklat besar. Setelah memasukinya, Anda akan dibawa menurun menuju parkiran. Dengan sekejap, hamparan kolam ikan dan gubuk kayu pun terhampar luas. Pun diiringi pohon-pohon teduh yang melingkupi jurang ini.

pemandangan indah di Ledok Gebang

Apabila menyaksikan sinetron, jurang identik dengan bahaya dan rasa takut. Rasa itu pun musnah di sini. Betapa jurang yang juga memiliki sungai ini, dapat dikelola dengan sangat baik. Bahkan bagi penyuka ketenangan alam, tempat ini sangat direkomendasikan untuk mencari inspirasi.

tepian kolam yang membuat pikiran lebih adem

kumpulan bunga teratai

ikan-ikan gemuk yang menarik perhatian

Menu di restoran ini beragam. Mulai dari udang, cumi, sayur, tahu, tempe, ikan, dan aneka minuman jus. Yang pasti, rasanya tidak mengecewakan dan begitu nikmat sambil melihat alam. Harganya pun menengah dan tidak terlalu mahal.

menu tahu, tempe, tumis brokoli, udang, dan gurame khas Ledok Gebang

Penyuka fotografi, dari yang profesional sampai pemuja selfie tentu saja dapat memuaskan hasratnya di tempat ini. Lokasi nyaman, indah, dan tenang. Selain memberi rasa damai dan kenyang, tentunya mata menjadi lebih segar.

Saturday, 26 April 2014

Tahu Gejrot, Kuliner Segar Cirebon

Bicara soal tahu, makanan apa saja yang Anda tahu terbuat dari tahu? Gorengan, tahu petis, kupat tahu kah? Bagaimana dengan tahu gejrot?
Tahu gejrot adalah kuliner khas dari Cirebon. Sesuai namanya, tentu saja tahu menjadi bahan utama dalam kuliner ini. Tahu ini sangat istimewa karena rasanya yang segar. Tak lain dan tak bukan karena racikan bumbunya.

tahu gejrot biasa dimakan dengan menggunakan lidi

Tahu yang digunakan adalah tahu kering yang sudah digoreng dan dipotong sedang. Bumbunya terdiri dari air asam jawa, ulekan cabe hijau dan bawang merah. Terkadang ada pula yang menggunakan bawang putih. Racikan kuah itu pun terasa amat segar karena didukung asam jawa.
Meski berasal dari Cirebon, kuliner ini telah mulai tersebar di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari warung, sepeda bergerobak, foodcourt, hingga restoran pun menjadikannya menu. Harganya bervariasi. Namun sejauh yang saya temui di Jogja, harga seporsinya tidak lebih dari Rp 6.000,00.
Ingin cari di Jogja? Anda harus sering-sering berputar di sekitaran Taman Pintar karena sepeda bergerobak yang menjualnya, sering berputar. Atau cobalah ke salah satu stand di Foodcourt Taman Pintar yang menjajakannya. Selamat mencoba!

Sunday, 20 April 2014

Sensasi Mengambang di Dalam Gua

Meski sudah agak siang, kami beruntung Kawasan Wisata Gua Pindul masih sepi. Padahal hari itu Sabtu. Baru saja menjejak ke gapuranya, dua orang pria tengah baya langsung menyambut kami dengan wajah sumringah. "Selamat datang di Gua Pindul!"
Sambutan itu agaknya membuat saya dan kawan-kawan SD saya langsung terkesan pada wisata alam rivertubing tersebut. Wisata yang dikelola oleh Wira Wisata Gua Pindul itu memang tengah hangat dibicarakan. Maklum, ia memang wisata baru. Lewatnya, wisatawan diajak menyusuri kegelapan dalam Gua Pindul dan mengambang di Sungai Oyo dengan ban karet.
Begitu sampai, kami yang memang sedang reuni kecil-kecilan itu, mendaftar dan menunggu nama kami dipanggil. Kami pun menitipkan barang bawaan di penitipan yang tak jauh dari pendaftaran. Sebab selama melakukan river tubing, tidak diperkenankan membawa barang bawaan, termasuk ponsel agar tidak basah.
Sembari menunggu di sebuah kursi bermejakan sederhana tapi nyaman dan akrab, kami mengomentari apa saja di sekitar kami. Mulai dari pajangan foto berjajar mengenai bentang alam di sekitar Gua Pindul, dokumentasi selama Gua Pindul diabadikan di TVC Djarum, syuting acara Koki Cilik, sampai foto kedatangan artis sinetron Stuart Collins.
Saya dan teman-teman sudah pasti berpikir. Bahwa wisata rivertubing yang lumayan menantang adrenalin ini, sangat memanjakan wisatawan yang datang. Selagi menunggu antrean, ada sekelompok pemain gamelan yang menghibur. Bagi pengunjung yang datang dari luar Jawa, tentunya ini sangat menarik. Belum lagi ketika kami usai melakukan rivertubing, secangkir wedang jahe disuguhkan sebagai pelepas rasa dingin selama basah-basahan di Sungai Oyo.
Segera setelah giliran kami tiba, dua orang pemandu memperkenalkan diri. Mereka pun mengajarkan kepada kami bagaimana caranya menggunakan rompi pelampung. Setelah kami paham dan benar-benar memakainya, kami memilih ban yang dirasa nyaman untuk memulai rivertubing.
Berjalan sebentar, tibalah kami di pinggir Sungai Oyo. Plung, plung, plung! Satu per satu ban karet masuk ke air. Tak terkecuali dengan orang yang menunggang di atasnya. Kami dianjurkan untuk bergandengan tangan agar tidak terpencar dari grup.


Area terang, remang-remang, lalu gelap. Itulah area dalam gua yang kami lewati. Menurut pemandu, ada batu lanang dan batu wedok di sana. Konon, mampu membuat yang memegangnya semakin rupawan.
Ketika area gua hampir berakhir, ada lubang di atap gua. Mirip Gua Jomblang, lubang ini memancarkan cahaya surga yang indah meskipun masih kalah dengan Gua Jomblang. Dari situ, wisatawan diajak berjalan kaki menyusuri pos sungai selanjutnya. Jalur berupa pematang sawah yang dilewati sangat menentramkan karena udara segar dan warna hijau dari tanaman padi. 
Untuk warga Kota Jogja yang ingin melewatkan akhir pekannya, Gua Pindul sangat tepat dicoba. Letaknya tidak jauh, ongkosnya juga tidak mahal, sensasinya pun menyenangkan. Hanya kira-kira Rp 45.000,00 per orangnya. Kapan lagi ke Pindul?