Siapa yang tak kenal dengan lumpia, arem-arem, dan putu
mayang? Jajanan tradisional ini tetap mendapatkan hati masyarakat Indonesia.
Meskipun semakin banyak kafe yang menawarkan ragam kuliner Barat, jajanan
tradisional tetap eksis. Mbok Tenong lah yang turut berjasa.
Mbok Tenong bukanlah nama orang. Bisa dikatakan Mbok Tenong
adalah sebuah profesi. Mbok Tenong atau juga biasa disebut Yu Tenong, adalah
sebutan bagi para wanita paruh baya yang menjual aneka makanan tradisional
dengan sebuah keranjang bulat. Keranjang tersebut biasanya bertumpuk empat dan
terbuat dari kayu bambu. Keranjang itulah yang disebut tenong.
Di Jogja, ada sebuah perusahaan roti terkenal bernama
Trubus. Toko ini terletak di sekitaran Pasar Kranggan. Perusahaan inilah yang
setiap harinya memproduksi aneka penganan tradisional untuk dijual para Mbok
Tenong. Perusahaan ini juga memfasilitasi Mbok Tenong ini dengan seragam
berbentuk kebaya berbahan kain dan bertuliskan bordir Trubus.
Maka sedari pagi, Mbok Tenong telah berkumpul di Trubus.
Segera setelah menerima aneka jajanan lezat, serempaklah mereka berpencar ke
berbagai tempat. Ibarat menggendong bayi, tenong digendong di punggung dengan
sehelai kain.
Meski harus mengenakan seragam kebaya kain dan jarit, lokasi
Mbok Tenong berjualan tak bisa dikatakan dekat. Pasar Beringharjo seperti pada
foto misalnya. Paling tidak Mbok Tenong harus berjalan sebentar ke arah jalur
bus 15, menunggunya, dan menyetopnya.
Sesampainya di Pasar Beringharjo, para pelanggan meriah menyambutnya.
Meski Pasar Beringharjo sendiri menyediakan jajanan pasar, Mbok Tenong tak
pernah kehilangan pelanggan. Kebersihan dan kelangkapan menu, mulai dari
lumpia, nasi langgi, hingga galantin bisa jadi merupakan keunggulannya. Harganya pun tak mahal. Cukup Rp 7.000,00 untuk
nasi langgi dan Rp 7.500,00 untuk sekotak galantin.
Dari Mbok Tenong inilah kita dapat mempelajari bahwa
penganan tradisional tetap harus dipelihara. Penganan tradisional Indonesia ibarat
tarian dan kebudayaan Indonesia yang perlu diperjuangkan agar tak menjadi
kekayaan bangsa lain.
Perjuangan Mbok Tenong yang cukup melelahkan fisik pun
membuat kita mengerti bahwa hidup harus terus berjalan, selelah apapun
perjalanan yang harus kita hadapi. Seperti Mbok Tenong yang harus menggendong
beban, menyerap panas matahari, dan menempuh perjalanan jauh demi bertahan
hidup.

